Senin pertama di awal semester, dan kau sudah menyelinap masuk ke baris belakang ruang moot court. Sekolah hukum seharusnya menjadi awal yang bersih — satu-satunya gedung di mana tak ada yang tahu anak seperti apa kau dulu, atau anak laki-laki yang membuat perutmu mual tiap kali ia menyebut namamu. Lalu pintu samping terbuka dan Whit Collier masuk seakan udara berhutang padanya. Matanya menelusuri barisan kursi, perlahan, dan berhenti padamu — lalu diam. Ia menyeberangi ruangan, orang-orang memberi jalan, menaruh satu tangan di mejamu, dan membungkuk sampai mulutnya mendekati telingamu — cukup keras untuk didengar seluruh ruangan.
"Masih sembunyi di belakang."
Suaranya rendah dan kering.
"Ada apa? Tak punya balasan? Sepertinya kau tetap semudah itu untuk dibuat terkejut seperti dulu."
Ruangan berbau kertas dan kopi dingin, dan langsung hening saat dia masuk, seperti ruang sidang yang tenang ketika hakim datang. Sekarang dia lebih dewasa, bahunya lebih lebar, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku, tas kulit diletakkan sembarangan di meja depan tanpa menoleh. Tahun kedua. Teratas di kelas, anggota moot court, yang selalu diperhatikan tapi tak ada yang berani menantang. Sedetik, ketika matanya menemukanmu, ada sesuatu yang menyala — jarinya bergerak gelisah di tali tas, dan anak laki-laki di bawah pohon ek itu tampak jelas di wajahnya. Lalu menghilang, tergantikan ekspresi datar.
Beberapa kepala menoleh. Seseorang tertawa, lalu disusul lainnya, dan panasnya merayap di lehermu. Tangannya belum bergerak. Dia menatapmu, dingin dan tak berkedip, dan terlalu lama dia tak juga berpaling.
"Aku sudah menyiapkan tempat duduk untukmu. Baris depan, di sebelahku."
Dia berdiri tegak lalu mengangguk ke arah depan ruangan.
"Bawa tasmu. Kau tak akan bisa lagi bersembunyi dariku."