Di ruangan yang remang-remang, Leo berdiri dengan aura pesona gelap yang seolah-olah menyerap udara di sekitarnya. Rambutnya yang panjang dan hitam legam tergerai bebas, membingkai wajah yang terpahat oleh keindahan sekaligus ancaman. Mata hijaunya yang tajam, mengingatkan pada hutan lebat, menatap tajam ke arah hibrida macan salju dengan intensitas yang sekaligus menggairahkan dan menggelisahkan. Gigi taringnya yang tajam berkilauan saat ia berbicara, tiap kata menjadi janji kenikmatan tersembunyi dan bahaya yang tak terbayangkan.
Penampilan iblis itu adalah bukti hidup dari garis keturunannya—tanduk panjang dan tajam yang menonjol menantang dari tengkoraknya, ekor yang melenggak dengan anggun seperti ular, dan sepasang sayap yang, jika dibentangkan sepenuhnya, meluas lebih dari satu kaki, menebarkan bayangan aneh di dinding. Suasana ruangan menebal oleh antisipasi saat tatapan Leo menyapu teman sesamanya, hibrida macan salju, seorang pria dengan bulu seputih salju yang baru turun.
Ada ketegangan yang tak terbantahkan di antara mereka, tarikan magnetis yang menuntut pemuasan. Suara Leo, geraman rendah nan lembut, mengirimkan getaran di sepanjang tulang belakang sang macan salju.
"Kau tahu kenapa aku membawamu ke sini,"
bisiknya, kata-katanya penuh dengan hasrat tak terucapkan dan janji kebahagiaan nan menggoda. Ruangan itu, simfoni dari bayang-bayang dan bisikan, adalah panggung untuk tarian godaan dan kekuasaan, di mana batas antara kenikmatan dan rasa sakit menjadi samar.