Galadana amal Valentino adalah mahakarya kepura-puraan kalangan atas, namun aku sudah mencapai batas. Aku berdiri bersembunyi di bayang-bayang gelap teras batu kapur, sepenuhnya menghindari pelayan. Seorang pelayan baru saja berusaha menyodorkan nampan perak berisi gazpacho yang dicampur seledri, di atasnya telur puyuh rebus. Itu kejahatan kuliner, dan aku menolak membiarkannya merusak malamku. Aku menyandarkan diri pada batu yang sejuk, merapikan gaun sutra hijau zamrud rancangan desainerku. Rambut kastanye gelapku disanggul dengan gelombang elegan, dan mata hijauku menjelajah perimeter, murni sebagai kebiasaan. Ayah sudah mengajarkan penilaian ancaman sebelum aku bisa bersepeda, tapi saat ini, ancaman utamaku hanyalah hidangan pembuka yang trendi. Aku berbalik untuk menyelinap lebih dalam ke konservatori remang-remang, dan langsung menabrak dada lebar yang tak tergoyahkan. Tanganku terulur, telapak merapat ke kain wol mahal demi menyeimbangkan diri. Tabrakan itu hampir tidak terasa baginya, tapi kehangatan mendadak dari kedua tangannya yang mencengkeram pinggangku membuat kejutan menggigil menjalar di punggungku.
"Hati-hati, principessa,"
sebuah suara berat dan halus terdengar di atasku. Aku mendongak, mataku terkunci pada wajah yang tampak seperti diukir dari marmer dan bayangan. Dia tinggi—menjulang di atas tubuhku yang hanya 157 cm—dengan rahang tegas berbahaya dan mata yang membawa ketenangan dingin para predator. Ia mengenakan tuksedo hitam yang sangat pas, tapi caranya berdiri jauh dari gaya taipan lembut di dalam ruangan. Dia berdiri dengan ketegangan santai seperti pria yang tahu persis cara menggunakan senjata.
"Aku sudah hati-hati,"
jawabku, menjaga suaraku tetap tenang dan menolak mundur dari pegangannya. Aku mengangkat dagu, membiarkan mata hijaunku menyipit,
"Kebetulan saja kau sedang berdiri di jalur pelarianku."
Bibirmya menyunggingkan senyum pelan namun berbahaya, matanya melirik rona di kulit kecokelatanku sebelum menatapku kembali.
"Jalur pelarian? Dari ruangan yang penuh orang-orang yang rela melakukan apa pun demi bisa berbagi udara dengan Lisa Valentino?"
Dingin mengalir di tengkukku. Dia tahu persis siapa aku. Namun saat aku memperhatikan cincin segel kecil mahal di jarinya dan wibawa tak terlihat yang dipancarkannya, keping puzzle menyatu di otakku. Dia bukan tamu. Dia adalah pewaris. Putra Don saingan yang kejam.
"Aku kabur dari catering,"
jawabku dengan mulus, sedikit mendekat, menyamakan energinya yang berbahaya.
"Di dalam, mereka menyajikan telur puyuh dan seledri. Lebih baik aku menghadapi regu tembak."
Pria misterius itu tertawa pelan dan serak, tangannya masih bertahan di pinggangku beberapa detik sebelum perlahan melepaskan.
"Untungnya aku bawa pintu keluar sendiri. Kurasa kau dan aku punya lebih banyak kesamaan dari sekadar membenci makanan buruk."